Jumat, 03 Februari 2012

Five Power Defence Arrangements


From Wikipedia, the free encyclopedia
the Five Power Defence Arrangements (FPDA) are a series of defence relationships established by a series of bilateral agreements between the United KingdomAustraliaNew ZealandMalaysia and Singapore signed in 1971, whereby the five states will consult each other in the event of external aggression or threat of attack against Peninsular Malaysia (East Malaysia is not included as part of the area of responsibilities under the FPDA) or Singapore.
The FPDA was set up following the termination of the United Kingdom's defence guarantees of Malaysia and Singapore as a result of Britain's decision in 1967 to withdraw its armed forces east of Suez. The FPDA provides for defence co-operation, and for an Integrated Air Defence System (IADS) for Malaysia and Singapore based in RMAF Butterworth under the command of an Australian Air Vice-Marshal (2-star). RMAF Butterworth, until 1988 under the control of the Royal Australian Air Force, is now owned by the Royal Malaysian Air Force, but hosts rotating detachments of aircraft and personnel from all five countries.
In 1981, the five powers organised the first annual land and naval exercises. Since 1997, the naval and air exercises have been combined. In 2001, HQ IADS was redesignated Headquarters Integrated "Area" Defence System. It now has personnel from all three branches of the armed services, and co-ordinates the annual five-power naval and air exercises, while moving towards the fuller integration of land elements.
John Moore, then Minister for Defence of Australia said, "As an established multilateral security framework, the FPDA has a unique role in Asia. It is of strategic benefit to all member nations and, in Australia's view, to the wider Asia-Pacific region.

Pidato soekarno


Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu juga biasa
Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!


Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!
Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu


Doakan aku,
aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa,
sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.


Serukan serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki Gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.


Yoo…ayoo…kita… Ganjang…
Ganjang…Malaysia
Ganjang… Malaysia
Bulatkan tekad
Semangat kita badjak
Peluru kita banjak
Njawa kita banjak
Bila perlu satoe-satoe!


Soekarno.
(Petikan Pidato Soekarno dalam Gerakan GANYANG MALAYSIA)

Konfrontasi indonesia Malaysia


Perang mengenai masa depan Malaya, Brunei, Sabah dan Serawak yang terjadi antara Federasi Malaysia dan Indonesia. Keinginan dari Federasi Malaysia yang ingin menggabungkan Malaya, Bruney, Sabah, Serawak melanggar Manila Accord sehingga ditentang oleh Presiden Soekarno. Soekarno menganggap pembentukan Federasi Malaysia sebagai “boneka Inggris” merupakan Kolonialisme dan Imperialisme dalam bentuk baru serta dukungan terhadap berbagai gangguan keamanan dalam negeri dan pemberontakan di Indonesia.
Malaysia melihat pembentukan federasi ini sebagai masalah dalam negeri, tanpa tempat untuk turut campur orang luar, tetapi pemimpin Indonesia melihat hal ini sebagai perjanjian Manila Accord yang dilanggar dan sebagai bukti kolonialisme dan imperialisme Inggris. Pada akhirnya muncul demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur yang berlangsung tanggal 17 September 1963, berlaku ketika para demonstran yang sedang memuncak marah terhadap Presiden Sukarno yang melancarkan konfrontasi terhadap Malaysia juga kerana serangan pasukan militer tidak resmi Indonesia terhadap Malaysia.
Sejak demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur, ketika para demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto Soekarno, membawa lambang negara Garuda Indonesia ke hadapan Tunku Abdul Rahman—Perdana Menteri Malaysia saat itu—dan memaksanya untuk menginjak Garuda, amarah Soekarno terhadap Malaysia pun meledak.
Malaysia melakukan aksi demonstrasi atas sikap konfrontasi Sukarno yang juga mewakili Indonesia terhadap masalah perwilayahan. Tindakan ini apakah yang dimaksud Menlu Malaysia sebagai RASIONAL dan Malaysia cinta damai? Sedangkan aksi yang dilakukan oleh damonstran Indonesia yang menyerang gedung kedubes Malaysia. Mereka sudah naik pitam luar biasa marahnya. Padahal aksi itu mewakili sikap dilanggarnya HAM WNI di Malaysia terutama TKI, Malaysia berkali-kali melakukan pelanggaran dengan memasuki wilayah perairan Indonesia, diakuinya budaya-budaya Indonesia sebagai budaya Malaysia (bahkan dijadikan objek untuk menarik wisatawan), dan banyak kasus-kasus lainnya.
Sesungguhnya lebih perlu ditanyakan adalah pemerintah sekarang ini yang seakan-akan sudah kehilangan “power”. Pemerintah Indonesia bersikap seakan-akan sulit bertindak tegas terhadap negara yang masih serumpun dengan Indonesia itu. Tidak ada satu pernyataan atau sikap yang resmi dikeluarkan oleh pemerintah saat ini yang menunjukkan gertakan terhadap Malaysia. Padahal di Malaysia kini dikeluarkannya “Travel Warning” untuk warga Malaysia ke Indonesia. Mungkin Konfrontasi Indonesia-Malaysia cikal bakal dari konfik kita selama ini. Akankah akan ada hasil akhir? atau mungkin situasi yang memanas di sekarang ini adalah catatan sejarah yang masih berlanjut dan menurun pada anak cucu kita nanti? Dari semuanya itu tentunya ada satu hal yang perlu kita sadari: Peristiwa hari ini akan dipelajari oleh generasi penerus sebagai pelajaran SEJARAH

Bendera Malaysia


Bendera Malaysia dikenali sebagai Jalur Gemilang, mengandungi 14 jalur merah dan putih (melintang) yang sama lebar bermula dengan jalur merah di sebelah atas dan berakhir dengan jalur putih di sebelah bawah, tanda keanggotaan yang sama dalam persekutuan 13 buah negeri dan 1 kerajaan persekutuan - JohorKedahKelantanMelakaNegeri Sembilan,PahangPulau PinangPerakPerlisSabahSarawakSelangor dan Terengganu danKerajaan Persekutuan.
Bahagian yang berwarna biru tua di atas sebelah kiri membawa ke bawah hingga atas jalur merah yang kelima itu maknanya perpaduan rakyat Malaysia. Bahagian biru tua itu mengandungi anak bulan tanda Agama Islam - agama rasmi bagi Persekutuan (Malaysia).
Bintang pecah 14 itu tanda perpaduan 13 buah negeri dan Kerajaan Persekutuan. Warna kuning pada anak bulan dan bintang itu ialah warna Diraja bagi Duli-duli Yang Maha Mulia Raja-raja